Gowes To Magelang
"Eh kayanya seru deh kalo kita ke Gunungpring naik sepeda", ujarku sekenanya memecah hening di antara kami berdua,
"boleh juga", jawabnya seakan menyetujui.
Jalanan mulai ramai, senja pun mulai redup, kayuhan sepeda lantas kami percepat sebab gerbang pondok pesantren menuju detik-detik penguncian. Sambil menenteng berplastik makanan, kami memarkir sepeda dengan bernapas lega, kami kembali tepat sebelum pintu gerbang di kunci.
Sore hari menjadi waktu rutinitas bagi kami untuk mencari bahan kebutuhan pokok atau makanan siap saji bagi mereka yang malas memasak di pesantren. Kebetulan hari ini aku dan dia sedang malas memasak. Sembari menyantap makanan yang sudah kami beli, percakapan kecil di tengah perjalanan pulang tadi kembali menjadi topik utama.
"Serius? Besok jadi? Jauh loh", mengingat dia yang mudah lelah dan rentan sakit, jelas aku khawatir dengan kondisi fisiknya jika kami benar-benar melakukan perjalanan tersebut.
"Iya, serius!"
Keesokan harinya,
Sekotak nasi dan sayur yang cukup untuk di makan berdua, juga sebotol minuman menjadi bekal perjalanan kami pagi ini. Setelah sarapan, kami mengawali perjalanan menelusuri Mlangi, Pundung, lalu Mlati. Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh ziarah sampai Gunungpring juga bisa, karena tidak jauh dari pesantren terdapat makam seorang ulama yaitu Mbah Kyai Nur Iman bin Prabu Amangkurat IV yang merupakan pendiri dari dusun Mlangi, Sleman, Yogyakarta. Akan tetapi kami memutuskan tetap pada tujuan kami yaitu Makam Auliya Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang yang jauhnya sekitar 25km dari tempat yang kami tinggali. Sekiranya lelah mengayuh, kami akan berhenti sejenak untuk minum seteguk atau dua teguk lalu kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata memerlukan waktu dua setengah jam lamanya bagi kami untuk sampai di tempat tujuan. Tak terasa lelah kami terbayarkan dengan ketenangan.
Komentar
Posting Komentar